• August 13, 2015

Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan pemanfaatan drone atau pesawat tanpa awak untuk memetakan secara cepat dampak letusan Gunung kelud tahun 2014 dan harapannya dapat dipergunakan dalam pengambilan keputusan saat rehabilitasi dan rekontruksi kembali. Drone atau dikenal dengan UAV (Unmanned Aerial Vehicle) menggunakan cara metode image-based modeling berbasis photogrammetry. Drone yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis Quadcopter yang memiliki kelebihan mampu terbang ke segala arah, mengudara tanpa landasan dan bergerak secara vertikal dan horizontal. Kemampuan autonomouse, memungkinkan drone bergerak menjaga keseimbangannya sendiri sehingga mudah dioperasikan baik untuk bergerak, mulai terbang sampai dengan pendaratan. Pemetaan dilakukan di kawasan sekitar 5 10 km dari puncak G kelud. Hasilnya menunjukkan bahwa desa desa di kawasan sekitar 5 km rusak berat, sebagian besar atap rumahnya roboh atau berlubang lubang, sedangkan kawasan 5 10 km dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu (1) rusak berat untuk rumah dengan genting yang sudah tua dan kemiringan atap di bawah 30 o. (2) rusak ringan untuk bangunan rumah dengan genting baru dengan kemiringan atap < 30o, (3) bangunan rusak ringan atau tidak rusak bagi bangunan dengan genting tua dengan kemiriangan sudut atap > 45o dan rumah dengan genting baru. Kesimpulan pesawat tanpa awak dapat dipergunakan untuk memetakan secara cepat kawasan terdampak letusan G Kelud sehingga bisa diketahui jumlah rumah yang rusak berat, sedang dan rusak ringan sekaligus penyebab kerusakannya. Untuk itu disarankan khususnya untuk atap bangunan berkemiringan rendah untuk dirubah sudut kemiringannya.